Wednesday, 15 June 2016

Aku Batang di Dunia


Buangan aku seorang di dunia ini. Sendirian. Tiada jiwa yang menemani atau ditemani—baik maya atau nyata. Riuh pun sebatas riuh di kepala. Tak mau keluar karena dibelenggu oleh rasa kekecutan dan ketakutan yang lebih membubung hebat bersama hembusan napas manusia ini.  Setiap saat seperti itu selalu. Selalu kini.

Jiwa ini kini rasa-rasanya seperti sebatang. Ah, ya, walau aku tahu dunia ini sangatlah luas—baik maya atau nyata—aku tetaplah sebatang dan akan tetap seperti itu. Kecuali ada yang sudi mengecualikan. Hingga batang ini tak jadi sebatang lagi.

“Aku ini temanmu.” Persetan! Benar-benar persetan untuk kalimat yang mengatasnamakan teman! Aku sudah kenyang melahap semua ucapan murah yang tak ada landas dan tujuannya itu di dunia ini. Semua teman—baik maya atau nyata—tak membuatku tumbuh dan menumbuh.

Lebih baik dan sebaiknya aku bertegak sendirian. Skenario dunia memang seperti itu selalu: bertegak sendirian. Aku percaya hal itu dan akan kugunakan sebagai pemberangkatan kini, kalau-kalau aku batu sendirian. Bukankah memang semua perbuatan di dunia ditanggung oleh masing-masing yang berbuat? Oleh dirinya sendiri—berbuat di dunia teruntuk akhirat?

“Kamu tidak bisa bertegak sendirian!” Sial! Diriku selalu merasa sial mendengar angin bernada tersebut! Memang salah bertegak sendirian? Ha? Bukankah jika aku nikmat nanti kamu ‘kan tidak peduli, pun sebaliknya? Lalu apa tidak bisanya? Tolong katakan!

“Dengar! Lubang itu untuk mendengar, maka dengarlah sebentar.” Baiklah, aku coba mendengar supaya kita seimbang, sama-sama penuhi keinginan. Silakan, dan aku mempersilakanmu berbicara. Lubang itu untuk berbicara, maka berbicaralah sebentar!

“Ya, aku akan berbicara sebentar dan kini....” Brengsek dengan bertele-tele! “.... Dengar! Dunia ini dicipta untuk bersama. Juga semua batang demikian, lagi untuk melangkah dan menang—di dunia dan akhirat. Tak perlu merasa sendirian dan mencoba membisai yang tak bisa. Itu percuma lagi bodoh! Dan dengar! Kita semua sama-sama batang dan selalu sama. Maka lekas perbaiki seratmu dan jadilah batang yang mengerti hakikatnya sendiri.”

Buangan aku bersama-sama di dunia ini. Ada jiwa yang menemani dan ditemani—baik maya atau nyata. Juga keriuhan yang menyelimuti kepala dan segala-galanya ini adalah alunan hidup. Ah, jadi biarkanlah hidup ini berjalan mudah pun mati demikian. Batang saja dapat berdiri tegak sendiri atau dan bersama, pun lagi matinya demikian—arti hidup singkatnya macam itu. Setiap saat seperti itu selalu. Selalu kini.


10 komentar

Seperti manusia yang katanya makhluk sosial, memang benar pasti gak bisa hidup sendiri. Seenggak-enggaknya membutuhkan sesama untuk saling berinteraksi. Saya yakin enggak ada yang bisa hidup sendiri.

Betul, tuh! Manusia memang tidak bisa hidup sendiri

Ah keren! Tapi kembali lagi ke diri sendiri. Kalau memang hidup ini kita sendiri yang ngejalanin. Bertenggak sendirian. Karena teman juga gak selamanya akan jadi teman sampai di akhirat nanti.

willynana.blogspot.com

Haha. Tepat! Namun, tidak ada salahnya bertegak bersama di dunia agar di akhirat bisa bertegak sendirian dengan baik.

Ini cerpen berarti ya? emang iya sih. Secool-coolnya orang, tetep aja pasti ga bisa hidup sendiri. Butuh orang lain buat ngobrol dan main-maiiin. \:D/

This comment has been removed by the author.

Cerpen? Bisa iya, bisa tidak. Ya, mungkin seperti itu seharusnya.

sekilas dari gambar thumbnails nya kukira bahas mobile legend :"
www.tips-indonesia.com

Terima kasih sudah mau mengunjungi blog ini. (@Anandamraneh)
EmoticonEmoticon